MEMAHAMI DAN MENGATASI KEKERASAN BERBASIS GENDER DI LINGKUNGAN SEKOLAH

 



Kasus JIS (Jakarta International School) yang terjadi pada 2014 silam masih hangat di ingatan kita, terlebih bagi yang berkecimpung di dunia pendidikan. Berawal dari orang tua salah satu korban yang membuat pengaduan terkait anaknya yang mendapat pelecehan seksual dari petugas kebersihan. Kasus ini meyadarkan kita bahwa kekerasan berbasis gender nyata dan bisa jadi terjadi lingkungan yang dianggap aman sekalipun, yaitu di sekolah. Kasus JIS hanyalah satu dari sekian banyak kasus yang dilaporkan.

 

Kekerasan berbasis gender secara sederhana dapat didefinisikan sebagai setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan. Faktanya di lapangan masih banyak ditemui guru yang belum memahami hal ini. Padahal data menunjukkan  kenaikan angka kekerasan berbasis gender baik di sekolah maupun di luar sekolah. Suburnya kekerasan berbasis gender sering disebabkan oleh budaya patriarki dan relasi kuasa yang menyebabkan diskriminasi dan ketidakadilan.




Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa bentuk kekerasan berbasis gender, yaitu fisik, seksual, psikis, sosial, dan ekonomi. Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan dituntut untuk mampu memahami dan mengatasi kekerasan berbasis gender. Berikut langkah yang dapat diambil  untuk mengatasi kekerasan berbasis gender di  lingkungan sekolah.

 


Penguatan individu menjadi pondasi mengatasi kekerasan berbasis gender di sekolah. Seluruh warga sekolah, baik siswa, guru maupun karyawan perlu membangun interaksi yang sehat di lingkungan sekolah. Interaksi ini harus didasarkan pada pemahaman dasar mengenai kekerasan, sehingga setiap individu memiliki kewajiban untuk mematuhi norma positif tentang gender.


Solidaritas teman diartikan sebagai berani mengambil tindakan terhadap ancaman kekerasan. Siapapun yang mengetahui tentang ancaman tersebut haruslah berani mengambil peran sebagai whistle blower. Diperlukan adanya regulasi lebih lanjut yang mengatur mengenai keamanan korban dan whistle blower  tersebut. Karena tidak jarang ditemui kasus kekerasan berbasis gender yang justru ditutupi dengan membungkam korban dan whistle  blower atas dasar menjaga nama baik sekolah.

Peran sekolah menjadi penting dalam langkah preventif ini. Sekolah perlu mengambil tindakan berupa menyerukan kampanye anti kekerasan gender. Kampanye yang diserukan terus-menerus diharapkan pada akhirnya menjadi budaya yang positif di lingkungan sekolah. Regulasi juga perlu ditegakkan terkait pelanggaran norma yang berkaitan dengan kekerasan. Bahkan jika ternyata ditemui kasus kekerasan berbasis gender, sekolah diharuskan mampu menyediakan konseling tanpa memojokkan korban dan memfasilitasi upaya penanganan tanpa membela pelaku.


Terakhir adalah penguatan dari sisi berbagai pihak terkait, baik itu komite, wali murid, alumni, dan masyarakat sekitar. Pihak-pihak tersebut perlu dilibatkan aktif untuk memperkuat tindakan pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi kekerasan berbasis gender di lingkungan sekolah.

 

Penguatan berbagai lapisan ini menjadi sangat penting bagi sekolah untuk dapat mengatasi kekerasan berbasis gender. Jika sekolah yang menjadi lingkungan pendidikan saja masih berlum mampu memberi perhatian khusus pada kekerasan gender, maka di mana lagi anak-anak akan merasa aman? Mari bangun lingkungan sekolah yang aman dari ancaman kekerasan berbasis gender.


***


Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog dan Vlog yang diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter, Kemendikbud. Ilustrasi dan infografis dibuat oleh Randha Ayu Nurlianadewi dengan menyebutkan sumber.

 

No comments